Arsip untuk Februari, 2009

Kebahagiaan Melindungimu dari Penyakit

Berbahagialah karena itu akan menyehatkan bagimu. Tersenyumlah pada orang sakit karena itu akan membuatnya bahagia dan mempercepat penyembuhan bagi penyakitnya. Bahagia adalah sebagian besar aspek yang membuat seseorang hidup lebih lama.
Kalimat-kalimat di atas bukan sekedar kata-kata hiperbola. Kebahagiaan memang berefek panjang umur bagi yang merasakannya. Ruut Veenhoven dari Universitas Erasmus di Rotterdam dalam sebuah penelitian, seperti yang dikutip dari KCM, menyatakan, “Kebahagiaan memang tidak menyembuhkan tetapi melindungi kita dari penyakit.” Hal inilah yang menyebabkan seorang yang bahagia tampak lebih sehat dan lebih panjang umur.
Bahagia dengan menciptakan suasana menggembirakan juga membawa pengaruh bagi orang yang sakit. Kebahagiaan terbukti mampu membantu mengurangi derita yang dialami pasien. Sedangkan bagi masyarakat yang sehat, kebahagiaan terbukti memperkuat sistem imun sehingga mereka terlindung dari penyakit.
Oleh karena itu, jadilah seseorang yang berbahagia dan memberi kebahagiaan pada orang-orang sekitar. Kebahagiaan itu dapat muncul akibat suasana persahabatan yang hangat dan menyenangkan. Kebahagiaan juga timbul oleh faktor-faktor sosial seperti kemerdekaan, demokrasi, disiplin, saling menghargai, atau hanya dengan sebuah sapaan. (Nilna Rahmi Isna)

Iklan

Osteoporosis Mengancam Remaja

osteoGaya hidup remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Banyak remaja yang ingin langsing, suka merokok, mengonsumsi alkohol, dan enggan terpapar matahari pagi. Hal ini sangat rawan bagi remaja untuk terkena penyakit osteopororsis atau penyakit pengoroposan tulang. Padahal, osteopororosis ’sewajarnya’ menyerang kelompok usia di atas 50 tahun.
Osteopororsis merupakan gangguan tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai pengecilan arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Gejala awal osteopororsis umumnya ditandai dengan rasa sakit, terutama di daerah punggung yang diikuti dengan fraktur tulang belakang sehingga menimbulkan rasa sakit yang hebat.
Remaja yang ingin terlihat langsing, biasanya enggan minum susu karena takut terlihat gemuk. Remaja putri, umumnya menolak terpapar matahari karena takut kulitnya hitam. Begitu juga kebiasaan merokok yang dianggap ‘keren’. Padahal kebiasaan-kebiasaan ini membuat tubuh mereka kekurangan vitamin D. Cahaya matahari dan susu yang merupakan asupan vitamin D malah dihindari. Rokok mengandung nikotin yang akan menyerap cadangan kalsium dalam tubuh. Jika remaja terus mempertahankan gaya hidupnya yang seperti itu, dikhawatirkan remaja akan menjadi generasi osteoporosis dalam dua atau tiga dasawarsa lagi. Baca lebih lanjut

Herbal di Indonesia

Kunyit (Curcuma longa)
Di dalam kunyit terdapat minyak atsiri, curcumin, turmeron dan zingiberen yang berfungsi sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, serta anti-radang. Dengan demikian, kunyit bisa dijadikan obat penurun panas. Khasiat lainnya, kunyit juga berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Bagian kunyit yang umum digunakan adalah rimpang kunyit yang berwarna oranye.

Pegagan (Centella asiatica) atau Daun Kaki Kuda
Pegagan bisa ditemukan di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 2,5 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini tumbuh liar di padang rumput, tepi selokan, sawah, dan kadang-kadang ditanam sebagai penutup tanah. Daunnya berwarna hijau berbentuk seperti kapas ginjal. Jika ingin menanam pegagan, sebaiknya di tanah yang agak lembab dan cukup sinar matahari. Pegagan bersifat menyejukkan, menambah tenaga dan menimbulkan selera makan. Daun ini dipergunakan untuk memperlancar aliran darah ke otak sehingga menajamkan pikiran dan meningkatkan saraf memori otak. Sebagai obat, pegagan bisa mengobato radang hati, campak, demam, sakit tenggorokan, asma, radang mata merah, keputiga, tekanan darah tinggi, pendarahan, wasir, sakit perut, disentri, cacingan, dan keracunan makanan. Baca lebih lanjut

Melirik Herbal, Tanaman Kaya Khasiat

herbal-cleaners1Tatkala dipopulerkannya pengobatan modern semenjak Sekolah Dokter didirikan pada 1908, penggunaan tanaman herbal (tanaman obat) justru dianggap kuno dan berbahaya. Masyarakat ragu-ragu menggunakan obat-obatan alami dan kemudian beralih ke obat-obatan kimiawi. Kenyataan ini berbeda dengan negara timur lain seperti Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea yang justru kembali ke alam. Negara-negara tetangga itu malah mengolah herbal hingga menjadi obat manjur yang terjamin mutu dan kualitasnya.
Saat ini, di Indonesia, semakin luas diketahui bahwa obat kimia ternyata lebih banyak membawa dampak negatif. Dampak negatif itu terjadi baik secara langsung maupun bertahap. Tubuh manusia bersifat organis yang mana di dalamnya terdapat banyak campuran dari berbagai senyawa. Sedangkan obat kimia termasuk senyawa anorganik. Obat kimia tersusun atas senyawa karbon murni yang sesungguhnya tidak cocok untuk tubuh. Maka, bukan hal aneh jika obat kimia sering dikeluhkan sebagai racun.
Sebagai obat yang hadir dari alam, herbal bisa menggantikan obat-obatan kimia yang saat ini harganya semakin melangit. Kelebihan herbal terletak pada tanaman itu sendiri di mana setiap bagiannya dapat berkhasiat obat. Karena itu, tanaman herbal disebut juga sebagai tanaman kaya manfaat.Selain itu, ada sejumlah penyakit berat yang belum mampu disembuhkan oleh obat kimia, antara lain kanker, stroke, juga AIDS. Baca lebih lanjut

Herbal dalam Pandangan Kedokteran Modern

herbalHampir setiap tahun muncul primadona baru dalam jajaran obat tradisional. Sebut saja buah mahkota dewa, sambiloto, temulawak, dan kumis kucing. Namun dalam dunia kedokteran, keabsahan obat-obatan ini belum bisa diakui karena masih berdasarkan pengalaman pemakai, belum diuji klinis.
Agar setara dengan obat modern, obat tradisional harus melewati banyak tahap. Tahapan inilah yang dikenal sebagai uji klinis. Jika telah lulus uji klinis, obat herbal disebut dengan fitofarmaka yang layak diresepkan dokter dan bisa masuk ke rumah sakit dan puskesmas.
Sejatinya, herbal bisa dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu : jamu, obat tradisional (herbal terstandar) dan fitofarmaka. Jamu belum diuji kelayakannya, hanya berdasarkan data empiris (pengalaman pemakai). Herbal terstandar telah diuji namun hanya sampai praklinik yaitu uji khasiat dan toksisitas (kandungan racun). Tingkat herbal yang saat ini telah diakui ilmu kedokteran modern, disebut fitofarmaka. Fitofarmaka telah lulus tiga uji penting yaitu uji praklinik, uji teknologi farmasi yang menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama sampai dapat dibuat produk yang terstandarisasi, serta uji klinik yaitu uji pada pasien di rumah sakit. Baca lebih lanjut

Kalau Berkunjung ke Rumah Sakit

patient_nurse1Pada umumnya, orang yang sakit akan mengalami perubahan sikap dari keadaan normalnya. Sikap berubah itu macam-macam,  bisaenjadi lebih sensitif, mudah marah, acuh tak acuh, atau menjadi lebih sopan, dan sebagainya. Kalau kita berkunjung ke rumah sakit, sebaiknyalah kita menjaga sikap dan sopan santun agar si sakit merasa tenang dan tidak merasa lebih baik dengan kehadiran kita.
Diantara yang perlu diperhatikan itu adalah pakaian. Pakailah pakaian yang sopan dan layak. Jangan memakai pakaian yang norak dengan asesoris berlebihan. Tidak juga memakai pakaian yang kelihatannya terlalu suram.
Jangan berkunjung jika yang sakit sedang tidur atau istirahat. Carilah waktu berkunjung dimana si sakit berkemungkinan mampu menyambut kita. Waktu berkunjung ini bisa dipedomani dari waktu kunjungan rumah sakit umumnya.
Sebelum ke rumah sakit, ketahui dulu penyakit orang yang akan kita kunjungi. Jangan sampai kita membawa makanan yang dilarang bagi si sakit. Kita juga tidak boleh menakut-nakuti yang sedang sakit terhadap penyakit yang dideritanya. Tersenyumlah selalu dan hiburlah si sakit. Jangan lupa juga untuk mendoakan si sakit agar lekas sembuh. (Nilna Rahmi Isna)

Global Warming Picu Malaria

Tahu nggak? Ternyata pemanasan global juga memicu timbulnya serangan penyakit. Sebut saja kawasan pegunungan Andes Kolumbia, Amerika tengah yang memiliki ketinggian 1.000-2.195 meter dari permukaan laut. Sebelumnya kawasan ini tidak pernah diserang penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun, akibat global warming, dilaporkan muncul nyamuk penyebab malaria, demam berdarah, dan demam kuning.
Selain itu, pada 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut. So, ayo bersama-sama menangkal global warming coz pemanasan ini tidak hanya berakibat terhadap bumi tapi juga memberi penyakit pada manusia.(Nilna Rahmi Isna)