Osteoporosis Mengancam Remaja

Februari 28, 2009

osteoGaya hidup remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Banyak remaja yang ingin langsing, suka merokok, mengonsumsi alkohol, dan enggan terpapar matahari pagi. Hal ini sangat rawan bagi remaja untuk terkena penyakit osteopororsis atau penyakit pengoroposan tulang. Padahal, osteopororosis ’sewajarnya’ menyerang kelompok usia di atas 50 tahun.
Osteopororsis merupakan gangguan tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai pengecilan arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Gejala awal osteopororsis umumnya ditandai dengan rasa sakit, terutama di daerah punggung yang diikuti dengan fraktur tulang belakang sehingga menimbulkan rasa sakit yang hebat.
Remaja yang ingin terlihat langsing, biasanya enggan minum susu karena takut terlihat gemuk. Remaja putri, umumnya menolak terpapar matahari karena takut kulitnya hitam. Begitu juga kebiasaan merokok yang dianggap ‘keren’. Padahal kebiasaan-kebiasaan ini membuat tubuh mereka kekurangan vitamin D. Cahaya matahari dan susu yang merupakan asupan vitamin D malah dihindari. Rokok mengandung nikotin yang akan menyerap cadangan kalsium dalam tubuh. Jika remaja terus mempertahankan gaya hidupnya yang seperti itu, dikhawatirkan remaja akan menjadi generasi osteoporosis dalam dua atau tiga dasawarsa lagi.
Proses akumulasi jaringan tulang yang tidak kuat pada masa pertumbuhan akan menyebabkan seseorang mengalami pengeroposan tulang lebih cepat dibandingkan dengan orang yang jaringan tulangnya lebih kuat. Untuk itu, para remaja diharapkan memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D setiap hari melalui pola hidup yang sehat. Kebutuhan kalsium remaja sekitar 1.000 miligram per hari, sedangkan kebutuhan vitamin D direkomendasikan sekitar 400 hingga 800 IU (International Unit) per hari.(Sehat/Nilna Rahmi Isna)

Tinggalkan Balasan