Kebahagiaan Melindungimu dari Penyakit
Februari 28, 2009
Berbahagialah karena itu akan menyehatkan bagimu. Tersenyumlah pada orang sakit karena itu akan membuatnya bahagia dan mempercepat penyembuhan bagi penyakitnya. Bahagia adalah sebagian besar aspek yang membuat seseorang hidup lebih lama.
Kalimat-kalimat di atas bukan sekedar kata-kata hiperbola. Kebahagiaan memang berefek panjang umur bagi yang merasakannya. Ruut Veenhoven dari Universitas Erasmus di Rotterdam dalam sebuah penelitian, seperti yang dikutip dari KCM, menyatakan, “Kebahagiaan memang tidak menyembuhkan tetapi melindungi kita dari penyakit.” Hal inilah yang menyebabkan seorang yang bahagia tampak lebih sehat dan lebih panjang umur.
Bahagia dengan menciptakan suasana menggembirakan juga membawa pengaruh bagi orang yang sakit. Kebahagiaan terbukti mampu membantu mengurangi derita yang dialami pasien. Sedangkan bagi masyarakat yang sehat, kebahagiaan terbukti memperkuat sistem imun sehingga mereka terlindung dari penyakit.
Oleh karena itu, jadilah seseorang yang berbahagia dan memberi kebahagiaan pada orang-orang sekitar. Kebahagiaan itu dapat muncul akibat suasana persahabatan yang hangat dan menyenangkan. Kebahagiaan juga timbul oleh faktor-faktor sosial seperti kemerdekaan, demokrasi, disiplin, saling menghargai, atau hanya dengan sebuah sapaan. (Nilna Rahmi Isna)
Osteoporosis Mengancam Remaja
Februari 28, 2009
Gaya hidup remaja saat ini sangat mengkhawatirkan. Banyak remaja yang ingin langsing, suka merokok, mengonsumsi alkohol, dan enggan terpapar matahari pagi. Hal ini sangat rawan bagi remaja untuk terkena penyakit osteopororsis atau penyakit pengoroposan tulang. Padahal, osteopororosis ’sewajarnya’ menyerang kelompok usia di atas 50 tahun.
Osteopororsis merupakan gangguan tulang yang mempunyai sifat-sifat khas berupa massa tulang yang rendah, disertai pengecilan arsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang akhirnya dapat menimbulkan kerapuhan tulang. Gejala awal osteopororsis umumnya ditandai dengan rasa sakit, terutama di daerah punggung yang diikuti dengan fraktur tulang belakang sehingga menimbulkan rasa sakit yang hebat.
Remaja yang ingin terlihat langsing, biasanya enggan minum susu karena takut terlihat gemuk. Remaja putri, umumnya menolak terpapar matahari karena takut kulitnya hitam. Begitu juga kebiasaan merokok yang dianggap ‘keren’. Padahal kebiasaan-kebiasaan ini membuat tubuh mereka kekurangan vitamin D. Cahaya matahari dan susu yang merupakan asupan vitamin D malah dihindari. Rokok mengandung nikotin yang akan menyerap cadangan kalsium dalam tubuh. Jika remaja terus mempertahankan gaya hidupnya yang seperti itu, dikhawatirkan remaja akan menjadi generasi osteoporosis dalam dua atau tiga dasawarsa lagi. Baca entri selengkapnya »
Herbal di Indonesia
Februari 28, 2009
Kunyit (Curcuma longa)
Di dalam kunyit terdapat minyak atsiri, curcumin, turmeron dan zingiberen yang berfungsi sebagai anti-bakteri, anti-oksidan, serta anti-radang. Dengan demikian, kunyit bisa dijadikan obat penurun panas. Khasiat lainnya, kunyit juga berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Bagian kunyit yang umum digunakan adalah rimpang kunyit yang berwarna oranye.
Pegagan (Centella asiatica) atau Daun Kaki Kuda
Pegagan bisa ditemukan di dataran rendah sampai daerah dengan ketinggian 2,5 meter di atas permukaan laut. Tanaman ini tumbuh liar di padang rumput, tepi selokan, sawah, dan kadang-kadang ditanam sebagai penutup tanah. Daunnya berwarna hijau berbentuk seperti kapas ginjal. Jika ingin menanam pegagan, sebaiknya di tanah yang agak lembab dan cukup sinar matahari. Pegagan bersifat menyejukkan, menambah tenaga dan menimbulkan selera makan. Daun ini dipergunakan untuk memperlancar aliran darah ke otak sehingga menajamkan pikiran dan meningkatkan saraf memori otak. Sebagai obat, pegagan bisa mengobato radang hati, campak, demam, sakit tenggorokan, asma, radang mata merah, keputiga, tekanan darah tinggi, pendarahan, wasir, sakit perut, disentri, cacingan, dan keracunan makanan. Baca entri selengkapnya »
Melirik Herbal, Tanaman Kaya Khasiat
Februari 28, 2009
Tatkala dipopulerkannya pengobatan modern semenjak Sekolah Dokter didirikan pada 1908, penggunaan tanaman herbal (tanaman obat) justru dianggap kuno dan berbahaya. Masyarakat ragu-ragu menggunakan obat-obatan alami dan kemudian beralih ke obat-obatan kimiawi. Kenyataan ini berbeda dengan negara timur lain seperti Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea yang justru kembali ke alam. Negara-negara tetangga itu malah mengolah herbal hingga menjadi obat manjur yang terjamin mutu dan kualitasnya.
Saat ini, di Indonesia, semakin luas diketahui bahwa obat kimia ternyata lebih banyak membawa dampak negatif. Dampak negatif itu terjadi baik secara langsung maupun bertahap. Tubuh manusia bersifat organis yang mana di dalamnya terdapat banyak campuran dari berbagai senyawa. Sedangkan obat kimia termasuk senyawa anorganik. Obat kimia tersusun atas senyawa karbon murni yang sesungguhnya tidak cocok untuk tubuh. Maka, bukan hal aneh jika obat kimia sering dikeluhkan sebagai racun.
Sebagai obat yang hadir dari alam, herbal bisa menggantikan obat-obatan kimia yang saat ini harganya semakin melangit. Kelebihan herbal terletak pada tanaman itu sendiri di mana setiap bagiannya dapat berkhasiat obat. Karena itu, tanaman herbal disebut juga sebagai tanaman kaya manfaat.Selain itu, ada sejumlah penyakit berat yang belum mampu disembuhkan oleh obat kimia, antara lain kanker, stroke, juga AIDS. Baca entri selengkapnya »
Herbal dalam Pandangan Kedokteran Modern
Februari 28, 2009
Hampir setiap tahun muncul primadona baru dalam jajaran obat tradisional. Sebut saja buah mahkota dewa, sambiloto, temulawak, dan kumis kucing. Namun dalam dunia kedokteran, keabsahan obat-obatan ini belum bisa diakui karena masih berdasarkan pengalaman pemakai, belum diuji klinis.
Agar setara dengan obat modern, obat tradisional harus melewati banyak tahap. Tahapan inilah yang dikenal sebagai uji klinis. Jika telah lulus uji klinis, obat herbal disebut dengan fitofarmaka yang layak diresepkan dokter dan bisa masuk ke rumah sakit dan puskesmas.
Sejatinya, herbal bisa dibedakan dalam tiga tingkatan yaitu : jamu, obat tradisional (herbal terstandar) dan fitofarmaka. Jamu belum diuji kelayakannya, hanya berdasarkan data empiris (pengalaman pemakai). Herbal terstandar telah diuji namun hanya sampai praklinik yaitu uji khasiat dan toksisitas (kandungan racun). Tingkat herbal yang saat ini telah diakui ilmu kedokteran modern, disebut fitofarmaka. Fitofarmaka telah lulus tiga uji penting yaitu uji praklinik, uji teknologi farmasi yang menentukan identitas atau bahan berkhasiat secara seksama sampai dapat dibuat produk yang terstandarisasi, serta uji klinik yaitu uji pada pasien di rumah sakit. Baca entri selengkapnya »
Kalau Berkunjung ke Rumah Sakit
Februari 28, 2009
Pada umumnya, orang yang sakit akan mengalami perubahan sikap dari keadaan normalnya. Sikap berubah itu macam-macam, bisaenjadi lebih sensitif, mudah marah, acuh tak acuh, atau menjadi lebih sopan, dan sebagainya. Kalau kita berkunjung ke rumah sakit, sebaiknyalah kita menjaga sikap dan sopan santun agar si sakit merasa tenang dan tidak merasa lebih baik dengan kehadiran kita.
Diantara yang perlu diperhatikan itu adalah pakaian. Pakailah pakaian yang sopan dan layak. Jangan memakai pakaian yang norak dengan asesoris berlebihan. Tidak juga memakai pakaian yang kelihatannya terlalu suram.
Jangan berkunjung jika yang sakit sedang tidur atau istirahat. Carilah waktu berkunjung dimana si sakit berkemungkinan mampu menyambut kita. Waktu berkunjung ini bisa dipedomani dari waktu kunjungan rumah sakit umumnya.
Sebelum ke rumah sakit, ketahui dulu penyakit orang yang akan kita kunjungi. Jangan sampai kita membawa makanan yang dilarang bagi si sakit. Kita juga tidak boleh menakut-nakuti yang sedang sakit terhadap penyakit yang dideritanya. Tersenyumlah selalu dan hiburlah si sakit. Jangan lupa juga untuk mendoakan si sakit agar lekas sembuh. (Nilna Rahmi Isna)
Global Warming Picu Malaria
Februari 28, 2009
Tahu nggak? Ternyata pemanasan global juga memicu timbulnya serangan penyakit. Sebut saja kawasan pegunungan Andes Kolumbia, Amerika tengah yang memiliki ketinggian 1.000-2.195 meter dari permukaan laut. Sebelumnya kawasan ini tidak pernah diserang penyakit yang disebabkan oleh gigitan nyamuk. Namun, akibat global warming, dilaporkan muncul nyamuk penyebab malaria, demam berdarah, dan demam kuning.
Selain itu, pada 1997 di Papua, penyakit malaria terdeteksi untuk pertama kalinya pada pemukiman di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut. So, ayo bersama-sama menangkal global warming coz pemanasan ini tidak hanya berakibat terhadap bumi tapi juga memberi penyakit pada manusia.(Nilna Rahmi Isna)
Tembakau Bisa Jadi Obat Kanker
Februari 28, 2009
Sebuah penelitian di Cina, menyebutkan tanaman tembakau bisa digunakan untuk membuat vaksin kanker. Vasin ini dikhususkan bagi orang yang menderita lymphoma kronis. Lymphoma adalah sejenis tumor pre kanker yang melibatkan sel-sel sistem kekebalan.
Vaksin tembakau, apabila disuntikkan kepada manusia, akan menghasilkan protein. Protein ini menjadi antibodi yang dapat menyusun reaksi kekebalan untuk memerangi sel-sel tumor itu. Demikian yang disampaikan oleh Dr Ron Levy dari Stanford University School of Medicina di California, yang penelitiannya diterbitkan di jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences. “Ini akan menjadi cara mengobati kanker tanpa dampak,” lanjut Dr Levy, seperti yang dilansir dari KCM.
Tim Levy menguji vaksin itu pada 16 pasien yang didianosis menderita lymphoma follicular B-cell, yakni penyakit kronis yang tak dapat diobati. Dari uji tersebut, tak seorang pasien pun yang mengalami dampak mencolok. Bahkan lebih dari 70 persen pasien menunjukkan peningkatan trhadap reaksi kekebalan. Akan tetapi, kata Levy, belum dapat dipastikan apakah reaksi kekebalan tersebut cukup untuk menghancurkan sel-sel tumor.
Rekayasa tanaman tembakau dilakukan dengan menggurat daun tembakau dengan virus yang dibalut gen untuk menulari tanaman tersebut. Selanjutnya, daun tembakau akan menghasilkan protein yang merupakan antibodi terhadap tumor pasien. Daun itu dipetik beberapa hari kemudian ditumbuk jadi bubuk hijau. Antibodi diambil dari tumbukan daun tembakau yang dijernihkan. Bahan itulah yang kemudian disuntikkan ke tubuh pasien.
Keberhasilan studi peneliti dari Cina tersebut mendapat respect karena ini adalah pertama kalinya vaksin kanker dari tanaman yang telah diujicobakan kepada manusia.(KCM/Nilna Rahmi Isna)
ditulis pada halaman Insting tabloid P’Mails. 27 Juli – 2 Agustus 2008
Jangan Sembarangan Pakai Antibiotik
Februari 28, 2009

“Ina kan sudah sembuh. Jadi nggak perlu lagi minum obat (antibiotik,-red),” tuntut Ina. Beberapa hari yang lalu Ina demam. Obat yang dibelinya di warung tidak mempan. Seorang teman memberikan Ina antibiotik. Karena merasa sudah sembuh, antibiotik yang masih tersisa tak disentuhnya lagi. Ini adalah kebiasaan berbahaya.
Menurut Dr Marc Miravitlles, MD, dokter spesialis Paru asal Spanyol, seperti yang dilansir dari Kompas.com, antibiotik yang tidak dihabiskan akan menimbulkan resistensi. Bakteri penyebab infeksi akan semakin kebal dan malah akan berbalik membahayakan tubuh. Antibiotiknya pun harus diganti dengan dosis yang lebih besar. Ia melanjutkan, “Sekurang-kurangnya butuh waktu lima sampai tujuh hari untuk mematikan bakteri. Obat diminum sekali sehari.”
Beberapa obat antibiotik seperti penisilin, tetracycline, dan amoxicilin adalah obat yang termasuk kategori antibiotik yang dapat berbahaya jika kita “bermain-main” dalam penggunannya. Jika antibiotik tidak digunakan sampai habis, bisa-bisa bakteri memiliki kekuatan untuk melawan obat-obat ini, mereka akan berkoloni dan mengeluarkan racun serta memperbanyak diri dalam tubuh.
Selain itu, tidak semua antibiotik bisa membunuh setiap kuman. Artinya tidak semua jenis infeksi bisa diatasi dengan obat yang sama. Dr Marc mengakui bahwa tidak setiap dokter memahami setiap jenis infeksi yang terjadi. Kadang dokter menyamaratakan kasus, satu jenis antibiotik digunakan untuk semua infeksi. Nah, bila dokter saja ada yang keliru apalagi kita yang orang awam. Maka, tidak selayaknya bagi masyarakat untuk sembarangan dan menentukan sendiri antibiotik yang digunakannya.(KCM/Nilna Rahmi Isna)
Cacing-cacing Berbahaya yang Hidup di Usus Manusia
Februari 28, 2009
Ascaris lumbricoides menyebabkan penyakit yang disebut Askariasis. Mereka hidup di rongga usus halus manusia. Berukuran 10-30 cm untuk cacing jantan dan 22-35 cm untuk cacing betina. Satu cacing betina Ascaris lumbricoides dapat berkembang biak dengan menghasilkan 200.000 telur setiap harinya. Telur cacing ini dapat termakan oleh manusia melalui makanan yang terkontaminasi. Telur ini akan menetas di usus, kemudian berkembang jadi larva menembus dinding usus, lalu masuk ke dalam paru-paru. Masuknya larva ke paru-paru manusia disebut terinfeksi sindroma loeffler. Setelah dewasa, Ascaris lumbricoides akan mendiami usus manusia dan menyerap makanan disana, disamping tumbuh dan berkembang biak. Inilah yang menyebabkan seseorang menderita kurang gizi karena makanan yang masuk diserap terus oleh Ascaris lumbricoides. Di Indonesia, penderita Askariasis didominasi oleh anak-anak. Penyebab penyakit ini bisa karena kurangnya pemakaian jamban keluarga dan kebiasaan memakai tinja sebagai pupuk.
Cacing tambang. Cacing ini memiliki dua jenis yaitu Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Disebut cacing tambang karena dahulunya banyak ditemukan pada buruh tambang di eropa. Necator americanus menyebabkan penyakit nekatoriasis dan Ancylostoma duodenale menyebabkan penyakit ankilostomiasis. Kedua jenis cacing ini banyak menginfeksi orang-orang di sekitar pertambangan dan perkebunan. N. americanus dan A. duodenale hidup di rongga usus halus dengan mulut melekat pada daging dinding usus. Tubuh Necator americanus mirip huruf S. Panjang cacing betina kurang lebih 1 cm. Setiap satu cacing dapat bertelur 9000 ekor per hari. Sementara itu panjang cacing jantan kurang lebih 0,8 cm. Ancylostoma duodenale lebih mirip dengan huruf C. Setiap ekor Ancylostoma duodenale dapat menghasilkan 28.000 telur per hari. Telur cacing tambang keluar bersamaan dengan feces. Dalam waktu 1-1,5 hari, telur akan menetas menjadi larva, yang disebut larva rhabditiform. Tiga hari kemudian larva berubah lagi menjadi larva filarifom dimana larva ini dapat menembus kulit kaki dan masuk ke dalam tubuh manusia. Di tubuh manusia, cacing tambang bergerak mengikuti aliran darah, menuju jantung, paru-paru, tenggorokan, kemudian tertelan dan masuk ke dalam usus. Di dalam usus, larva menjadi cacing dewasa yang siap menghisap darah. Setiap ekor cacing N. americanus akan menghilangkan 0,005-1 cc darah per hari sedangkan setiap ekor cacing A. duodenale akan menyebabkan manusia kehilangan 0,08-0,34 cc per hari. Oleh karena itulah, cacing tambang menjadi berbahaya karena dapat menyebabkan anemia pada manusia. Di Indonesia, insiden akibat cacing tambang tinggi pada daerah pedesaan, terutama perkebunan. Infeksi cacing ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat desa yang BAB di tanah dan pemakaian feces sebagai pupuk. Selain lewat kaki, cacing tambang juga bisa masuk ke tubuh manusia melalui makanan yang masuk ke mulut. Baca entri selengkapnya »